Cara Membuat Perubahan Jadi Permanen

Kita semua tahu rasanya memulai sesuatu dengan semangat tinggi. Entah itu mulai olahraga, berhenti begadang, mengurangi konsumsi gula, atau mencoba hidup lebih teratur. Tapi setelah seminggu, dua minggu, semangatnya mulai turun. Lama-lama kembali ke pola lama, seolah-olah perubahan itu cuma fase lewat saja.

Dan, hal ini terjadi lebih sering daripada yang kita sadari.

Photo by Gemini

Menurut John C. Norcross dalam bukunya Changeology, memulai perubahan memang penting. Tapi, mempertahankannya jauh lebih krusial. Perubahan sejati bukan hanya soal bagaimana kita mulai, tapi bagaimana kita bertahan ketika semangat mulai luntur.

Perubahan Itu Bukan Sekadar “Mulai”, Tapi Juga “Menjaga”

Banyak orang berpikir perubahan itu soal memulai. Padahal, bagian tersulit bukan mulai, tapi mempertahankan. Norcross menyebut fase ini sebagai tahap Persist, yaitu ketika kita mulai merasa bosan, godaan kembali muncul, dan semangat menurun.

Di sinilah banyak perubahan mulai runtuh. Kita mulai berkata, “Sekali ini aja nggak apa-apa,” atau “Besok balik lagi deh.” Tapi seperti kita tahu, “sekali ini aja” sering jadi awal dari kembali ke kebiasaan lama.

Norcross menekankan bahwa keberhasilan jangka panjang datang bukan dari tekad kuat semata, tapi dari strategi mempertahankan perubahan saat semangat sudah reda.

Tiga Strategi Bertahan di Tengah Jalan

Berikut tiga pendekatan dari Changeology agar perubahan yang sudah kamu mulai bisa bertahan:

1. Buat Perubahan Jadi Identitas

Kamu bukan cuma “lagi coba makan sehat”, kamu adalah orang yang peduli dengan kesehatan. Kamu bukan “lagi belajar disiplin waktu”, kamu adalah orang yang menghargai waktu.

Ketika perubahan melekat pada identitas, kita cenderung lebih konsisten. Norcross menyebut ini sebagai internalisasi perubahan, yaitu mengubah perilaku menjadi bagian dari siapa diri kita, bukan sekadar aktivitas sementara.

2. Kenali Pola Relapse dan Antisipasinya

Relapse alias kambuh, itu wajar. Yang membedakan orang yang berhasil dan tidak bukan soal apakah mereka pernah gagal, tapi bagaimana mereka merespons kegagalan.

Norcross menyarankan untuk mengantisipasi momen kritis, seperti saat stres, saat liburan, saat kehilangan motivasi. Siapkan “rencana cadangan” untuk kondisi tersebut. Misalnya, kalau nggak sempat workout pagi, ganti dengan jalan kaki sore. Jangan menunggu sampai kondisi ideal.

3. Rayakan Kemajuan, Bukan Kesempurnaan

Salah satu jebakan paling umum adalah pola pikir “semua atau tidak sama sekali.” Sekali melanggar, langsung menyerah. Padahal, kemajuan bukan tentang sempurna setiap hari, tapi tentang konsisten secara keseluruhan.

Norcross menyarankan kita untuk memberi penghargaan atas pencapaian kecil. Bukan karena kita lemah, tapi karena otak kita butuh umpan balik positif untuk membentuk kebiasaan jangka panjang.

Jangan Tunda Lagi, Tapi Siapkan Diri untuk Bertahan

Sering kali, kita menunda memulai karena takut tidak bisa bertahan. Tapi yang sebenarnya kita butuhkan bukan penundaan, melainkan strategi untuk menjaga perubahan tetap hidup setelah euforia awal hilang.

Bersiaplah menghadapi rasa bosan, kejenuhan, atau gangguan dari luar. Bukan untuk ditakuti, tapi untuk diantisipasi. Karena perubahan yang bertahan bukan milik mereka yang sempurna, tapi milik mereka yang punya rencana saat keadaan tidak berjalan mulus.

Penutup

Memulai perubahan adalah langkah penting, tapi menjadikannya permanen membutuhkan pendekatan yang lebih dalam. Perlu identitas baru, rencana cadangan, dan penghargaan atas setiap kemajuan kecil.

Seperti yang disampaikan Norcross, perubahan bukan hanya tentang tahu apa yang harus dilakukan. Tapi, juga tentang terus memilih untuk melakukannya, hari demi hari, bahkan ketika rasanya berat. Dan itulah yang akhirnya membentuk perubahan yang bertahan lama.

Salam sukses bermanfaat…

*) Dielaborasi dengan bantuan GenAI

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top