Sabtu (12/3/2016), saya kembali mengikuti seminar parenting di sekolah anak saya, SD Insan Cendekia Madani. Tema yang diangkat kali ini adalah “Mengenal Anakku”, dibawakan oleh Ibu Dr. Ery Soekresno, P.Si, M.Sc. Beliau adalah alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, sudah menulis berbagai buku tentang pendidikan bagi anak-anak, konsultan psikologi, pendidikan prasekolah, dan pendidikan dasar. Ia juga mengelola sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT).

Di awal acara, kami disuguhkan sebuah video yang menunjukkan bagaimana kehidupan anak jaman sekarang. Anak yang dikategorikan sebagai Generation Z. Mari kita tonton bersama videonya berikut ini:

Dalam video singkat tersebut, kita bisa melihat bagaimana kehidupan anak-anak jaman sekarang. Tentu sangat berbeda dengan jaman orang tuanya dulu ketika masih anak-anak. Saya dulu mengenal HP ketika sudah mahasiswa. Sekarang, anak saya yang di playgroup aja sudah lincah memainkan game Android atau iPad.

Tapi, bukan sekarang saja saya kira perbedaan itu terjadi. Bahkan sejak dahulu pun orang tua kita beda jaman dengan kakek kita.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Jaman sudah berubah, didiklah anakmu sesuai dengan jamannya karena anak tidak akan hidup sejaman dengan jamanmu”.

Kalau anak-anak kita masuk Generation Z, maka orang tua yang lahirnya seperti saya (akhir tahun 70an) masuk dalam kategori Generation X). Berikut macam-macam perbedaannya.

pengasuhan anak

Klik gambar untuk memperbesar

Pengasuhan anak sesuai perkembangan usia

Pengasuhan anak adalah tugas utama orang tua. Dengan harapan, kelak anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, shaleh/shalehah, berbakti pada orang tua, dan berguna bagi bangsa.

Mengasuh anak tidak sama dan tidak bisa disamakan pada tingkatan usia yang berbeda. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana pengasuhan anak sesuai dengan perkembangan usianya.

Salah satu teori yang banyak digunakan untuk pengasuhan anak berdasarkan perkembangan usia adalah yang dikemukakan Erik Erikson. Teorinya dikenal dengan teori perkembangan psiko-sosial.

Pada tulisan ini akan saya kemukakan sebagian saja yang mencakup masa anak-anak.

Usia 0 – 1 tahun >> Trust vs Mistrust (percaya vc tidak percaya)

Pada masa ini anak belajar sesuai dengan proporsi keyakinan atau kepercayaannya terhadap orang tua atau pengasuhnya. Semakin besar keyakinan anak kepada orang tuanya, semakin besar rasa percaya dirinya dan rasa amannya.

Rasa yakin ini bisa tumbuh jika anak diasuh dengan baik. Ketika menangis tidak didiamkan. Ketika pipis langsung dikeringkan. Ketika lapar atau haus langsung diberi makan atau minum.

Anak yang keseringan dibiarkan menangis terlalu lama, tidak nyaman dengan popoknya yang basah dan tidak diganti juga, biasanya akan mengalami penurunan rasa kepercayaan akan lingkungannya.

Efek jangka panjangnya bisa dilihat, misalnya, anak jadi takut ditinggal di sekolah pada masa awal masuk. Hingga kemudian timbul rasa percaya dan rasa aman, barulah bisa ditinggal.

Usia 1 – 3 tahun >> Autonomy vs Shame and Doubt (mandiri vs malu dan ragu)

Pada masa ini orang tua atau guru mesti bisa mendorong anak untuk melakukan sendiri hal-hal yang sudah dapat dilakukannya sendiri dan menghargai usaha anak. Dengan penghargaan pada usaha anak, akan mulai tumbuh rasa percaya terhadap diri sendiri.

Berikan kesempatan pada anak untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya dan berbuat salah (salah produktif). Orang tua tidak boleh terlalu menuntut, misalnya harus bisa, si fulan saja bisa, dll.

Orang tua yang terlalu menuntut anak akan menghasilkan anak yang malu dan ragu dengan kemampuannya untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Dampak jangka panjangnya bisa membuat anak memiliki kepercayaan akan diri sendiri yang rendah di masa dewasanya.

Usia 3 – 6 tahun >> Initiative vs Guilt (inisiatif vs rasa bersalah)

Pada usia ini, orang tua seyogyanya membantu anak untuk mengembangkan inisiatifnya. Bagaimana caranya? Misalnya, dengan membolehkan anak untuk merencanakan kegiatannya sendiri saat liburan. Anak mau ke mana, mengenakan apa, dan melakukan apa saja ketika liburan.

Bisa juga dengan membiarkan anak untuk menentukan sendiri pakaian yang akan dipakai sepulang sekolah atau akan bermain dengan siapa saja dan apa yang akan dimainkan.

Pada masa ini, anak belajar pentingnya tujuan dan mulai memahami bagaimana mencapai satu tujuan melalui kegiatan sistematis.

Orang tua yang terlalu banyak mengkritik pilihan anak bisa berdampak timbulnya rasa bersalah pada anak ketika mencoba berinisiatif dalam memilih. Jika ini terus terjadi bisa berakibat anak mengalami banyak hambatan dalam dirinya hingga dewasa.

Usia 6 -12 tahun >> Industry vs Inferiority (produktif vs tidak percaya diri)

Pada masa ini, anak akan menunjukkan keinginan untuk melakukan yang terbaik terhadap hal yang sudah direncanakannya, seperti tugas sekolah. Dorongan dan penghargaan dari orang tua atas prestasinya akan membangun rasa bangga bagi anak.

Apapun pencapaian anak terhadap tugas sekolah, misalnya, orang tua maupun gurunya harus menunjukkan penghargaan atas usaha yang telah dilakukannya. Penghargaan dan dorongan terhadap anak dapat meningkatkan produktivitasnya.

Sebaliknya, orang tua yang harapannya terlalu tinggi, tidak memberi dukungan, dan menahan diri dalam memberi penghargaan akan membuat anak merasa tidak berharga, yang menghambat anak untuk melakukan hal dengan baik.

Penghargaan terhadap usaha anak sebenarnya tidak mesti selalu barang. Ucapan terima kasih yang tulus dari orang tua untuk hal-hal kecil yang dilakukan anak akan sangat berpengaruh.

Misalnya,

“Terima kasih ya Kak, sudah bantuin mama beresin tempat tidur.”

“Terima kasih Kak, sudah jagain adek jadi mama bisa masak.”

Itulah sedikit oleh-oleh dari Parenting Academy di ICM tentang “mengenal anakku”. Terima kasih kepada Ibu pemateri, kepala sekolah SD ICM, dan panitia yang telah mengadakan acara ini.

Disclaimer:

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menggurui pembaca bagaimana seharusnya mengasuh anak, karena saya yakin Anda sudah memiliki pakem sendiri untuk melakukannya. Saya sekadar berbagi inspirasi.

Tulisan ini saya elaborasi dari catatan dan ingatan saya selama acara, jika ada yang tidak pas, itu mungkin kekhilafan saya atau kekeliruan saya dalam memahami materi yang dipaparkan. Jika Anda menjumpainya, jangan sungkan menuliskannya dalam kolom komentar.