Blok Masela terletak di Laut Arafura, sekitar 800 km sebelah timur Kupang, ibukota Nusa Tenggara Timur, atau sekitar 400 km di utara kota Darwin, Australia. Kedalaman air laut berkisar 300-1000 meter (wikipedia.org).

polemik blok masela

Lokasi Blok Masela (foto: offshore-technology.com)

Blok Masela dimiliki oleh INPEX, perusahaan asal Jepang, sejak Nopember 1998. Saat ini, komposisi kepemilikan sahamnya adalah INPEX 65% dan SHELL 35%. Dan yang menjadi operator blok adalah INPEX.

Yang membuat blok ini menjadi tersohor adalah penemuan sumber gas alam di lapangan Abadi. Di lapangan ini, telah dibor satu sumur eksplorasi pada tahun 2000 dan berhasil menemukan gas. Demikian juga pada beberapa sumur appraisal yang dibor pada tahun 2002, 2007, dan 2008.

Berdasarkan revisi Plan of Development (POD) I atau rencana pengembangan lapangan, lapangan Abadi memiliki cadangan gas terbukti sekitar 10,37 TCF (trillion cubic feet) (mediaindonesia.com).

Dengan cadangan terbukti sebesar itu, lapangan Abadi diperkirakan mampu menghasilkan LNG sekitar 2,5 – 7,5 million ton per annum (mtpa) atau juta ton per tahun selama 30 tahun. Selain itu, juga akan menghasilkan kondensat sekitar 8.400 barrel oil equivalent (boe) setiap harinya (thejakartapost.com).

Untuk memproduksi gas yang ada di lapangan Abadi, Blok Masela tersebut diperlukan infrastruktur yang tidak mudah dan murah. Tidak bisa disedot begitu saja, dikalengin, terus dijual ke yang memerlukan.

Dalam POD awal yang telah diajukan 2010 pada masa pemerintahan SBY, disepakati pengembangan lapangan gas ini dengan Floating LNG (FLNG) atau kilang apung di laut. Namun, penemuan cadangan baru pada tahun 2013/2014 membuat POD tersebut harus direvisi.

Gonjang-ganjing pun dimulai dengan banyaknya orang yang berpendapat bagaimana seharusnya lapangan ini dikembangkan. Rencana awal yang disepakati yaitu FLNG, mendapat tantangan dari beberapa pihak yang menginginkan kilang dibangun di darat saja.

Berawal dari pernyataan Rizal Ramli, Menko Maritim, yang menyatakan bahwa pengembangan di darat akan lebih murah (republika.co.id). Belakangan, masyarakat Maluku pun menolak pembangunan kilang di laut. Mereka menginginkan kilang dibangun di darat saja.

Kenapa masyarakat menolak kilang dibangun dilaut?

Dari berbagai berita yang dimuat di media, saya menyimpulkan sebab masyarakat menolak pembangunan kilang di laut adalah mereka ingin mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari pengembangan lapangan gas ini. Jika dibangun di darat tentu kesempatan masyarakat dan pemerintah daerah menjadi lebih besar untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan mereka.

Harapan yang tidak muluk-muluk sebenarnya dan sejalan dengan UUD 1945, pasal 33 yang menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Kenapa ESDM terkesan bersikukuh membangun kilang di laut?

Meskipun Rizal Ramli dan masyarakat memilih pembangunan kilang di darat, kementerian ESDM lebih memilih di laut (FLNG). ESDM berkilah, pembangunan kilang di laut lebih murah dibanding di darat. Berdasarkan data dari SKKMIGAS, untuk membangun kilang di darat diperlukan dana sebesar USD 19,3 miliar, sedangkan di laut hanya USD 14,8 miliar (katadata.co.id).

Hasil kajian Poten and Partner, sebuah konsultan independen, terkait pembangunan kilang ini juga menunjukkan bahwa FLNG adalah pilihan yang paling cocok untuk pengembangan lapangan Abadi.

Menanti keputusan pemerintah

Keputusan pemerintah soal ini tentu tidak mudah untuk dibuat, karena harus memperhatikan banyak hal. Bukan hanya hitung-hitungan mahal atau murah, tapi juga aspek teknis, sosial, budaya, hingga kebermanfaatannya untuk daerah sekitar. Tidaklah berlebihan jika Wapres JK mengatakan bahwa pemerintah harus berhati-hati dalam memutuskan (detik.com).

Presiden Jokowi pun, kabarnya telah meminta banyak masukan dari berbagai pihak. Ini menunjukkan keseriusan dan kehati-hatian pemerintah dalam menangani polemik blok Masela.

Apapun keputusan pemerintah kelak, harapan kita itu yang terbaik bagi bangsa dan masyarakat.

Update: Presiden Jokowi memutuskan pengembangan Blok Masela di darat

Presiden Jokowi akhirnya memutuskan pengembangan gas Blok Masela dengan mekanisme darat atau onshore. Keputusan ini disampaikan Jokowi di sela kunjungan kerja di Kalimantan (bisnis.tempo.co).

Keputusan ini tentu disambut gembira oleh segenap masyarakat sekitar dan semua pihak yang selama ini menginginkan pengembangan secara onshore.

Semoga saja, keputusan pengembangan gas Masela secara onshore ini bisa memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi pembangunan ekonomi daerah dan nasional.

Referensi:

http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/16/03/01/o3d5vh382-polemik-blok-masela-silang-pendapat-kemenko-maritim-dan-kementerian-esdm

http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/16/03/01/o3crsk382-ini-asal-muasal-kisruh-pembangunan-blok-masela

http://www.mediaindonesia.com/news/read/21008/kajian-blok-masela-selesai-pekan-ini/2015-12-21

http://www.thejakartapost.com/news/2016/01/11/pros-and-cons-masela-block-options.html

http://www.inpex.co.jp/english/business/indonesia.html

http://www.rmol.co/read/2016/01/25/233349/Masyarakat-Maluku-Tolak-Kilang-Blok-Masela-Dibangun-Di-Laut-

http://katadata.co.id/berita/2015/09/22/tanggapi-rizal-ramli-skk-migas-sebut-flng-lebih-unggul-dari-pipa

http://finance.detik.com/read/2016/02/25/120558/3150741/1034/jk-keputusan-blok-masela-tunggu-hari-baik

https://bisnis.tempo.co/read/news/2016/03/23/090756255/akhirnya-jokowi-putuskan-blok-masela-gunakan-skema-onshore