5 Tapi Penjegal Kesuksesan dan Cara Menyiasatinya

5 Tapi Penjegal Kesuksesan dan Cara Menyiasatinya (Image by TeeFarm from Pixabay)

Menetapkan tujuan yang ingin dicapai bukan jaminan akan sukses menggapainya. Kalau hanya itu, maka tidak akan kita jumpai resolusi tahun baru yang terus berulang setiap tahunnya.

Kenyataannya, tidak sedikit orang yang menetapkan tujuan kemudian menjegal dirinya sendiri dari mewujudkan tujuan tersebut. Mungkin saja mereka tidak sadar melakukannya.

Salah satu yang kerap kita dengar adalah “Saya ingin xxx sih, tapi …“.

Apa itu TAPI

Dalam hal pencapaian tujuan, segala sesuatu yang muncul setelah tapi biasanya adalah alasan. Alasan untuk tidak melakukan tindakan yang bisa mendekatkan ke arah pencapaian tujuan.

Alasan ini tidak mesti nyata atau benar adanya. Terkadang malah sekadar alat pembenaran atau obat atas rasa bersalah yang timbul di kemudian hari.

5 contoh tapi dan cara menyiasatinya

Dalam kehidupan sehari-hari, Anda mungkin kerap mendengar atau menggunakan sendiri kata tapi ini. Saya juga kadang-kadang sih… hehehe.

Wajar-wajar saja sih, asal jangan larut dan akhirnya benar-benar tidak melakukan apa-apa untuk mencapai tujuannya. Bisa berabe nantinya.

Berikut ini 5 contoh tapi dan cara menyiasatinya, agar Anda tahu polanya dan pendekatan untuk mengatasinya seperti apa.

1. Saya ingin xxx, tapi itu susah

Beberapa tahun yang lalu saya ingin belajar salah satu bahasa pemrograman, yaitu Python. Saya sempat terjebak dengan tapi yang ini.

Saya ingin belajar Python, tapi sepertinya itu susah.

Kalau muncul alasan susah, biasanya karena kita tidak tahu cara melakukannya. Mau mulai dari mana, sama siapa, bagaimana caranya, dll.

Bagaimana menyiasatinya?

Cari tahu cara melakukannya.

Saya yang awalnya sekadar baca buku saja, akhirnya mencoba googling. Bagaimana cara belajar Python untuk pemula seperti saya.

Dari situ kemudian menemukan berbagai petunjuk bagaimana cara belajarnya. Tinggal menyesuaikan saja mana yang cocok dengan saya.

2. Saya ingin xxx, tapi terlalu beresiko

Di daerah Gading Serpong ada sebuah taman bermain yang menyediakan arena panjat tebing. Saya beberapa kali ke sana bersama istri dan anak-anak.

Saat anak saya ingin mencoba memanjat dinding tersebut, istri saya teriak “Jangan… terlalu beresiko”.

Kenapa istri saya berkata begitu?

Panjat dinding memang beresiko kalau tidak ahli. Saya yang mendampingi anak saya bukan ahli panjat dinding. Terlebih lagi anak saya yang baru mau mencoba.

Bagaimana menyiasatinya?

Kalau Anda ingin mencapai sesuatu kemudian berpikir itu terlalu beresiko, kemungkinan Anda tidak tahu cara terbaik melakukannya. Maka, salah satu cara yang bisa Anda lakukan adalah bertanya kepada yang ahli atau kepada yang berhasil melakukannya. Kecuali yang Anda inginkan itu yang pertama kali atau belum ada yang berhasil mencapai sebelumnya… hehehe.

3. Saya ingin xxx, tapi akan memakan waktu lama

Saya teringat beberapa tahun lalu ingin melanjutkan kuliah S2, tapi selalu muncul pikiran nanti akan memakan waktu lama. Soalnya kuliahnya sambil kerja.

Yang terjadi kemudian sekadar ingin dan tidak juga kuliah. Begitu hingga dua atau tiga tahun. Hingga akhirnya memutuskan mendaftar saja di tahun 2013.

Bagaimana saya menyiasati tapi nya?

Ada satu kenyataan yang saya sadari saat itu, bahwa kalau saja dua atau tiga tahun lalu itu sudah kuliah, kemungkinan sudah hampir selesai. Entah itu saya kuliah atau tidak, waktu akan tetap berlalu.

Pilihan ada di Anda, beberapa tahun ke depan ingin begitu saja atau ingin sesuatu yang Anda impikan.

4. Saya ingin xxx, tapi saya sudah kewalahan

Macam orang super sibuk sekali ya… hehehe.

Tak jarang ini terjadi. Rasanya banyak sekali pekerjaan, sehingga merasa kewalahan. Apalagi jika harus menambah keinginan pula.

Bagaimana menyiasati alasan yang ini?

Kewalahan terjadi biasanya karena perencanaan atau pelaksanaan pekerjaan yang kurang bagus. Ini bisa diatasi salah satunya dengan chunking, membagi pekerjaan. Tidak berusaha menyelesaikan semua pekerjaan sekaligus.

Ibarat kata mau menelan seporsi ayam geprek sekaligus. Ya bakal tersedak. Makannya sedikit-sedikit saja, secubit demi secubit. Yakin bakal maknyusss.

5. Saya ingin xxx, tapi saya tidak ada waktu

Saya menyelesaikan kuliah S2 dalam waktu 3 tahun. Agak telat sebenarnya, terutama saat mengerjakan tesis. Alasannya tidak punya waktu. Maklum sambil bekerja.

Kalau dibiarkan tidak akan selesai, begitu pikir saya.

Bagaimana menyiasatinya?

Alasan tidak punya waktu biasanya akibat manajemen waktu yang amburadul. Padahal, kalau mau ditelisik, sebenarnya banyak waktu yang sebenarnya bisa digunakan.

Saya akhirnya membuat prioritas. Tentu menyelesaikan pekerjaan kantor tetap menjadi prioritas.

Ada waktu-waktu tertentu yang bisa dimanfaatkan optimal. Misalnya, sisa waktu istirahat siang yang biasanya saya pakai untuk cek email, facebook, dll ganti dengan menulis tesis. Menjelang pulang biasanya berselancar di dunia maya ganti tulis tesis.

Sedikit-sedikit memang, tapi akhirnya kelar juga. Alhamdulillah.

Demikianlah 5 contoh tapi penjegal kesuksesan dan cara menyiasatinya. Mudah-mudahan bermanfaat buat Anda…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *