Select Page

Saya teringat sebuah kejadian di suatu sore di kosan saya beberapa tahun silam. Kala itu, saya bersama beberapa orang teman sedang nongkrong di depan kosan sambil bercerita. Di tengah-tengah serunya cerita yang topiknya sudah berpindah ke mana-mana, tiba-tiba seorang kawan berkata dengan sedikit puitis namun penuh misteri, “Mungkin sebaiknya saya akhiri saja perjalanan ini”, katanya.

Hening sejenak, kami terdiam, entah kaget atau sedang berusaha mengartikan pernyataan teman tadi. Saya sendiri awalnya berpikir jika Ia sudah putus asa dan hendak bunuh diri. Tapi, segera pikiran itu saya buang jauh-jauh. Tidak mungkinlah, meskipun saya tahu Ia sudah dua tahun lebih di Jakarta berusaha mencari kerja namun belum berhasil juga. Sementara, yang lain sudah mulai mapan dengan pekerjaan masing-masing.

“Apa maksudmu!?” tanya seorang teman.
“Saya mau pulang kampung saja. Tidak mungkin saya hidup mengandalkan kiriman dari kampung setiap bulannya” Jawabnya.

Aah… Begitu maksudnya rupanya dan diskusipun berlanjut hingga Maghrib.

Selang beberapa bulan, teman ini rupanya tidak kunjung pulang kampung dan masih juga belum mendapat pekerjaan. Rupanya, prinsip “sekali layar terkembang, pantang biduk pulang ke tepian” masih dipegangnya erat-erat. Keinginan pulang masih kalah dibanding rasa malu jika harus pulang dengan kegagalan menggapai cita-cita.

Hiduppun berlanjut, aktivitas ditekuni sebagaimana biasa. Meski menganggur, tapi bekal ilmu dan keterampilan terus dikumpulkan agar nanti jika ada kesempatan sudah siap. Ketekunan yang dibarengi dengan kesabaran, karena tak seorang pun tahu kapan kesempatan itu datang menghampiri. Yang penting siap kapan pun ia datang menyapa.

Begitulah, hingga akhirnya Ia diterima bekerja di perusahaan oil service. Buah dari ketekunan dan kesabaran yang dimilikinya.

Sabar dan tekun bisa menjadi salah satu kunci sukses dalam menggapai cita-cita.

Related Post