Faktor-Faktor Penyebab Seseorang Melakukan Kecurangan (Fraud)

Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan beberapa berita mengenai pejabat yang melakukan kecurangan (fraud). Mereka bisa memiliki banyak mobil mewah, rumah megah, dan berbagai harta lainnya yang tentu saja tidak sesuai dengan besaran gaji ditambah tunjangan yang mereka terima.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa penyebab mereka melakukan tindakan curang atau fraud itu? Bukankah gaji dan tunjangannya sudah cukup memadai untuk hidup layak?

Sebelum lebih jauh berbicara mengenai penyebabnya, mari kita lihat lebih dahulu apa definisi dari fraud itu.

Definisi Fraud

Saya ingin menuliskan pengertian fraud dari Association of Certified Fraud Examiners (ACFE), fraud adalah setiap tindakan yang disengaja menggunakan tipu muslihat dan penyembunyian fakta untuk mendapatkan keuntungan.

Jadi, kecurangan itu adalah tindakan yang disengaja. Ini harus dipastikan sebelum menghakimi seseorang melakukan fraud. Jika terjadi suatu kesalahan karena ketidaktahuan atau tidak sengaja, maka hal itu bisa saja human error.

Tapi, kalau tidak sengajanya berulang-ulang?

Naaahhh… ini mesti ditelusuri lebih lanjut. Apakah ada niat untuk melakukan kesalahan tersebut, sehingga menimbulkan kerugian bagi orang lain dan mendatangkan keuntungan bagi dirinya.

Penyebab Fraud

Kenapa sih seseorang melakukan kecurangan atau fraud?

Selama ini dikenal fraud triangle yang dikembangkan oleh Dr. Donald Cressey untuk menunjukkan tiga penyebab terjadinya fraud, yaitu kebutuhan (need), kesempatan (opportunity), dan pembenaran (justification).

Dalam perkembangannya, ditambahkan lagi tiga faktor penting lainnya yang menjadi pendorong seseorang melakukan fraud, yaitu kompetensi (competence), karakter (character), dan arogansi (arrogance). Hal ini kemudian dikenal dengan Fraud Hexagon.

Sumber gambar : https://www.xpertsleague.com/the-fraud-hexagon/

Kebutuhan (need)

Biasanya terjadi karena adanya tekanan keuangan yang tidak dapat diselesaikan dengan cara yang sewajarnya, misalnya, terlilit pinjaman online, biaya KPR yang membengkak, dll. Bisa juga karena perubahan gaya hidup akibat pergaulan. Ingin tampil gaya dan mewah di depan teman-teman gaulnya, tapi gaji tidak memadai, akhirnya melakukan cara-cara ilegal untuk mendapatkan uang.

Kesempatan (opportunity)

Kesempatan berbuat curang biasanya terjadi karena kontrol internal yang kurang memadai. Misalnya, Anda punya toko online kemudian stok barang hanya dipegang oleh satu orang. Dia yang bertugas mencatat barang masuk juga barang keluar. Kemudian Anda sebagai pemilik tidak begitu jeli memeriksa stok dan keluar masuknya.

Lama-lama orang yang bertugas ini bisa melihat kesempatan untuk berbuat curang yang bisa memberinya keuntungan. Ia bisa dengan mudah mengubah catatan barang masuk dan menjualnya sendiri.

Pembenaran (justification)

Orang yang melakukan fraud biasanya memiliki pembenaran untuk melakukan perbuatannya. Sehingga, ia merasa apa yang dilakukannya dapat diterima.

Contohnya, pegawai yang merasa sudah melakukan banyak hal untuk perusahaan tapi tidak mendapatkan penghargaan yang sesuai harapannya. Kemungkinannya pegawai tersebut membenarkan tindakan curang yang dilakukannya untuk mendapatnya penghargaan yang seharusnya.

Kompetensi (competence)

Orang berbuat curang biasanya karena ia tahu cara melakukannya tanpa diketahui orang lain. Walaupun lama-lama bisa terbongkar juga. Tengoklah para pejabat yang saya singgung di awal. Mereka tahu cara kerjanya, jadinya bisa meraup untung untuk kantong mereka sendiri.

Karakter (character)

Karakter dapat diartikan sebagai tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Inilah yang membuat orang-orang yang berada di situasi yang sama dengan kesempatan sama bisa melakukan hal yang berbeda. Karakter bisa membuat orang berbuat curang atau tetap jujur.

Arogansi (arrogance)

Arogansi adalah keangkuhan, sikap mementingkan diri sendiri dan tidak peduli dengan orang lain. Ini yang biasa dialami oleh orang-orang yang memiliki kuasa terhadap sesuatu. Misalnya, tidak memperdulikan SOP karena merasa ia yang memegang kuasa anggaran, dll.

Demikianlah faktor-faktor penyebab fraud atau kecurangan. Sebagai auditor internal memahaminya dengan baik, agar bisa mendesain kontrol internalnya dengan tepat.

Salam sukses bermanfaat…

Referensi:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top