Cara mengatasi kebiasaan menunda

Gambar dari Pexels.com

Pernahkah Anda menunda melakukan sesuatu, padahal tahu hal tersebut harus dilaksanakan?

Sudah dijadwalkan, tiba saatnya dilakukan Anda menunda-menunda hingga waktu mepet baru dikerjakan.

Kalau jawaban Anda iya, sering, atau kadang, maka sebenarnya Anda tidak sendiri. Karena banyak orang yang kerap melakukan hal serupa. Menunda melakukan pekerjaan hingga saatnya mendesak. Saya pun kadang melakukannya… hehehe.

Atau mungkin Anda bingung, tidak yakin, apakah pernah menunda sesuatu atau tidak? Saya berikan ciri-ciri orang yang sering menunda ya…

  • Punya banyak buku, tapi tidak ada atau hanya sedikit yang selesai dibaca
  • Ingin memiliki gaya hidup sehat, tapi tidak dimulai-mulai. Atau sudah dimulai tapi tidak berlangsung lama.
  • Ingin rutin jogging di pagi hari, tapi hanya berlangsung beberapa hari.
  • Ingin mengubah hidup suatu hari nanti. Suatu hari nanti… hihihi
  • Suka telat bayar tagihan yang memiliki tenggat waktu.
  • Sering lapor SPT pajak di saat-saat terakhir.
  • dll

Saya masih ingat saat kuliah dulu, paling sering menunda mengerjakan tugas kuliah. Apalagi kalau itu tugas presentasi. Ditunda terus hingga waktunya dekat dengan saat presentasi. Hasilnya tentu bisa ditebak. Materi seadanya, persiapan kurang, dan presentasi pun sekadarnya.

Anehnya, kita biasanya sadar kalau menunda pekerjaan tertentu bisa merugikan, tapi tetap saja dilakukan. Sudah tahu kalau berangkat telat akan terjebak macet panjang, masih saja bangunnya ditunda. Sudah tahu kalau makan tidak teratur dan tidak terkontrol bisa berdampak buruk pada kesehatan, masih saja gaya hidup sehatnya ditunda.

Menunda dapat menghasilkan sesuatu yang tidak menyenangkan bahkan merugikan, namun tetap saja banyak orang yang jatuh ke dalamnya. Apa sebenarnya menunda ini dan kenapa hal itu bisa terjadi?

Pengertian menunda

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/menunda, menunda diartikan sebagai menangguhkan atau mengundurkan waktu pelaksanaan.

Kalau menilik pengertian di atas, menunda nampaknya sederhana saja. Sekadar menangguhkan mengerjakan sesuatu. Mengatasinya tentu mudah saja, cukup buat jadwal, atur waktunya, kemudian kerjakan saja sesuai pengaturan waktunya tersebut.

Tapi, dari pengalaman saya, walaupun sudah ada jadwalnya, sudah ditulis dengan jelas dan terperinci, tetap saja saya sering menunda pekerjaan tertentu. Tidak semua hal memang sering saya tunda, hanya hal-hal tertentu saja yang tidak menyenangkan untuk dilakukan… hehehe. Seperti, rutin jogging pagi paling tidak 30 menit, makan malam buah atau sayur saja. Menunda gaya hidup sehat, akibatnya berat badan tidak kunjung ideal. Malah curhat… xixixi.

Nah, nampaknya menunda tidaklah sesederhana itu. Makanya, mengatasinya pun tidak sesimpel membuat jadwal atau perencanaan dan melakukannya. Saya tidak mengatakan membuat jadwal tidak berguna, ini tentu saja membantu dalam banyak hal. Tapi, ada hal lain yang mesti ditinjau agar usaha mengatasi kebisaan menunda lebih optimal.

Neil Fiore, Ph.D. dalam bukunya The Now Habit: a strategic program for overcoming procrastination and enjoying guilt-free play, menulis pengertian lain dari menunda.

Menunda adalah mekanisme untuk mengatasi kecemasan yang terkait dengan memulai atau menyelesaikan pekerjaan atau keputusan apa pun.

Naaahhh, dari pengertian ini nampak kan benang merahnya.

Kenapa kita menunda mengerjakan sesuatu meskipun itu bisa merugikan di kemudian hari?

Karena kita menghindari sesuatu yang tidak nyaman jika harus melakukan pekerjaan tersebut.

Saya menunda gaya hidup sehat karena menghindari rasa tidak nyaman jika harus mengurangi tidur, lapar di jam-jam tertentu, dll. Kemudian memutuskan untuk menikmati kesenangan sesaat.

Rasa tidak nyaman atau kecemasan yang timbul ketika akan melakukan sesuatu juga berpengaruh terhadap motivasi yang dimiliki. Ketika motivasi berkurang, kita cenderung untuk mengalihkan perhatian dan melakukan yang lain.

Nah, kita sudah tahu kenapa kita menunda sesuatu meskipun itu bisa merugikan di kemudian hari. Sekarang saatnya melihat lebih spesifik alasan apa biasanya yang kita miliki untuk menunda.

Alasan untuk menunda dan cara mengatasinya

Ada berbagai alasan yang sering orang kemukakan ketika menunda melakukan sesuatu. Baik itu menunda pekerjaan, menunda olahraga, menunda bangun tidur, dll.

Memahami dengan baik alasan yang bisa memunculkan perasaan tidak nyaman, cemas, ketika akan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi motivasi dan memicu penundaan adalah cara untuk mengatasi kebiasaan menunda yang efektif.

Tujuan yang tidak jelas

Tujuan yang tidak jelas bisa membuat seseorang untuk menunda-nunda. Misalnya, ingin memiliki gaya hidup sehat, seperti beberapa kali saya singgung di atas. Ini tidak jelas, gaya hidup sehat seperti apa maksudnya? Dari pada bingung melakukannya, akhirnya ditunda melulu. Makanya saya tidak langsing-langsing juga hingga tulisan ini dibuat… hehehe.

Beda halnya kalau ditulis, sarapan jus lemon plus timun, makan siang nasi merah plus lauk secukupnya, malamnya makan buah atau sayur saja. Nah ini lebih jelas. Dari pengalaman saya, kecenderungan terlaksananya lebih besar. Masih ada sih penundaan, khususnya yang malam, tapi itu alasannya berbeda.

Bagaimana mengatasinya?

Buatlah tujuan yang jelas. Ada tolak ukurnya, ada batasan waktunya, dan masuk akal. Kalau perlu tuliskan tujuan Anda itu secara SMART, specific, measurable, achievable, realistic, dan time based.

Specific atau spesifik. Tuliskan tujuan Anda sespesifik mungkin. Hindari menulis tujuan yang terlalu umum, misalnya ingin menghasilkan uang lebih banyak, ingin menjadi lebih fit atau sehat, ingin membaca lebih banyak. Itu terlalu umum.

Ingin jogging setiap jam 5.30 pagi, paling tidak 30 menit. Ini baru spesifik.

Measurable atau dapat diukur. Tujuan Anda hendaknya mempunyai tolak ukur, sehingga Anda tahu bergerak ke arah yang benar dan tahu ketika sudah mencapai target.

Ingin membaca lebih banyak atau ingin menurunkan berat badan adalah contoh tujuan yang tidak memiliki tolak ukur. Seberapa lama yang lebih banyak itu? Berapa kg yang ingin diturunkan?

Ingin membaca buku pengembangan diri satu jam setiap jam 8 malam. Atau, ingin menurunkan berat badan 5 kg, dari 95 kg menjadi 90 kg dalam 2 bulan ke depan. Ini baru punya tolak ukur.

Achievable atau dapat dicapai. Anda dapat melakukan tindakan untuk mencapai tujuan Anda. Anda punya sumber daya untuk mewujudkannya.

Misalnya, ingin bisa bercakap-cakap menggunakan Bahasa Inggris 2 bulan ke depan. Tindakan yang bisa Anda lakukan adalah ikut kursus dan banyak berlatih bercakap-cakap. Kalau Anda punya uang untuk ikut kursus kemudian punya waktu dan teman latihan, maka tujuan ini bisa dicapai.

Sebaliknya, jika Anda tidak bisa ikut kursus, kemudian tidak ada alternatif lain, ditambah lagi Anda tidak punya waktu dan kawan untuk latihan, maka tujuan tersebut sulit untuk dicapai.

Realistic atau masuk akal. Ingin menurunkan berat badan 5 kg dalam 2 bulan adalah sesuatu yang masuk akal. Tapi, kalau ingin melunturkan 5 kg dalam 2 minggu, ini jadi tidak masuk akal.

Time based atau berjangka waktu. Tujuan yang baik haruslah memiliki tenggat waktu kapan harus tercapai. Misalnya, dalam 2 bulan, setahun, atau lainnya.

Pekerjaan yang mudah

Kita cenderung menunda pekerjaan yang mudah untuk dilakukan. Contohnya, bayar tagihan, beli bensin, dll.

Salah satu tagihan yang paling sering saya tunda adalah bayar TV berlangganan. Ini pekerjaan yang mudah, tinggal mampir ATM dan bayar. Kebetulan saya termasuk yang telat pakai mobile banking… hehehe.

Saking mudahnya, sering saya tunda. Ntar ajalah. Tanggung ah kalau mampir lagi. Masih bisa besok. Sayang rasanya kalau harus antri lama di ATM hanya untuk bayar tagihan. Sampai akhirnya anak saya nangis karena saluran film kartunnya tidak bisa diputar.

Saya juga pernah mendorong motor ke SPBU karena kehabisan bensin. Saya sebenarnya sudah menyadari kalau bensin motor saya menipis dari hari sebelumnya. Tapi, dua SPBU yang saya lewati antriannya mengular. Jadi, saya tunda besok pagi-pagi ajalah isinya. Rupanya sisa bensin tidak mencukupi untuk mencapai SPBU besoknya.

Kenapa pekerjaan yang mudah kerap kita tunda? Karena kita merasa usaha untuk melakukannya terkadang lebih besar. Ini yang memicu rasa kurang nyaman. Jadinya ditunda, menunggu lebih lowong, lebih enteng, lebih cerah, dll.

Bagaimana mengatasinya?

Agar pekerjaan yang mudah ini tidak selalu ditunda-tunda. Coba Anda bayangkan dampak menyusahkan yang sudah Anda alami di masa lalu akibat menunda melakukannya. Dampaknya harus lebih besar dari rasa tidak nyaman Anda jika harus melakukannya sekarang.

Misalnya, mau bayar tagihan kemudian kelihatannya ATM ada yang ngantri beberapa orang. Kemudian terpikirkan untuk menunda besok saja kalau agak lowong. Nah, ketika muncul pikiran seperti itu jangan langsung angkat kaki. Coba tetap di tempat dan ingat betapa susahnya dulu ketika telat bayar tagihan. Anak nangis-nangis, istri kelimpungan karena harus menenangkan anak sambil masak, dan Anda pun tergopoh-gopoh ke ATM padahal baru sampai dari kantor.

Atau ketika melihat indikator bensin mulai masuk merah. Langsung saja ingat betapa capeknya kalau harus mendorong motor kalau kehabisan bensin. Mana sudah siang, bos menunggu di kantor, dll. Biasanya kalau sudah ingat kerepotan itu, saya akan betah ngantri di SPBU tanpa menunda… hehehe.

Pencapaian hasil yang masih lama

Orang sering menunda suatu pekerjaan yang hasilnya masih lama. Jadwal ujian sebenarnya sudah tahu, tapi karena masih lama maka belajarnya ditunda terus. Sampai akhirnya tersisa waktu semalam untuk belajar. Lahirlah istilah SKS di kalangan mahasiswa, alias sistem kebut semalam.

Kenapa saya sering gagal menjaga pola dan porsi makan di malam hari? Karena godaanya beraaaattttzzz, sementara hasilnya masih lama baru bisa kelihatan. Tujuan jangka panjang saya dikalahkan oleh kesenangan makan sesaat. Itu sebabnya… ah sudahlah, nanti dikira curhat lagi… hehehe.

Bagaimana mengatasinya?

Ini lebih berat lagi menuliskannya. Tunggu saya berhasil mempraktekkannya dulu ya. Paling tidak 21 hari… xixixi.

Tulisan Lainnya:

Jangan Biasakan Menunda Hari masih pagi, rasanya masih betah di tempat tidur. Namun, keributan di ruang depan memaksa saya untuk beranjak. Rupanya, anak saya sedang ribut ing...