Tadi (Sabtu, 16 Januari 2016), saya berkesempatan hadir di acara Parenting Academy yang dilaksanakan oleh TK/SD Insan Cendekia Madani. Acara ini adalah perdana dari rencana 12 kali pertemuan untuk berbagai topik seputar mendidik anak. Tema hari ini adalah perubahan paradigma, dibawakan oleh Ibu Rozamon Gandhi, psikolog ICM.

Tanpa sadar, kadang-kadang kita mendidik anak kita sebagaimana dulu kita dididik. Cara kita bereaksi terhadap perilaku anak kita kadang-kadang dipengaruhi oleh cara orang tua kita dulu.

Diakui atau tidak, cara orang tua kita dulu mendidik kita tergolong keras. Jangankan menatap matanya, mendengar langkah kakinya saja nyali sudah ciut. Demikian juga di sekolah. Mendengar bunyi sepatu guru saja, kelas sudah berubah jadi hening.

Nah, tanpa sadar kadang-kadang kita perlakukan anak kita dengan cara yang sama. Kalau tidak boleh ya tidak boleh. Tidak ada alasan, pokoknya tidak boleh!

cara mendidik anak yang baik

Tidak boleh ya tidak boleh…!!! Tidak pake tapi!

Mengubah paradigma

Sebelum lebih jauh membahas bagaimana mendidik anak-anak kita agar siap bersaing di zamannya, pertanyaan yang perlu dijawab adalah bisakah paradigma kita diubah?

Paradigma adalah cara pandang kita terhadap sesuatu. Jika kita bicara soal mendidik anak, berarti cara pandang kita bagaimana seharusnya dalam mendidik anak.

Paradigma kita saat ini banyak dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu. Nah, bisakah paradigma itu diubah atau diperbaiki sesuai dengan perkembangan zaman?

Tentu bisa. Mari kita lihat cerita berikut:

Di suatu sore dalam sebuah KRL yang cukup padat, ada seorang ibu bersama 3 orang anaknya yang masih kecil-kecil. Ibu tersebut beserta anaknya diberi tempat duduk di kursi prioritas.

Sepanjang jalan, ketiga anaknya sibuk bermain, bergelantungan di pegangan kereta, kadang berlari-larian di antara padatnya penumpang. Situasi ini berlangsung lama dan mulai mengganggu kenyamanan penumpang lain. Sementara ibunya diam saja, tidak berupaya menegur anak-anaknya.

Penumpang lain di sekitar situ mulai kesal dong sama ibu itu.

“Anak-anak ribut begitu kok didiamkan saja,” gumam seorang ibu yang berdiri di depannya.

“Ibu macam apa itu. Bisa ngurus anak gak sih!” kata penumpang lainnya dalam hati.

Pada satu titik, seorang ibu tak tahan lagi dan menghampiri ibu itu.

“Bu, itu anaknya dari tadi berisik mengganggu banget. Ditegur dong, Bu,” kata penumpang itu.

“Oh maaf Bu, saya kurang memperhatikan. Saya lagi memikirkan Ayahnya anak-anak yang baru saja kecelakaan dan masih di IGD,” jawab ibu itu.

Jika Anda sebagai penumpang yang tadinya begitu kesal, kira-kira apa yang Anda rasakan?

Berubah jadi simpati.

Cara pandang kita yang tadinya negatif terhadap ibu itu, berubah jadi simpati. Itulah kekuatan dari sebuah informasi baru.

So, kalau ingin mengubah paradigma kita tentang cara mendidik anak, harus banyak-banyak mencari informasi yang baru. Saya yakin, kita sebagai orang tua selalu mengharapkan yang terbaik bagi anak-anak kita. Dan untuk mewujudkan itu, kita siap melakukan hal-hal terbaik pula pada mereka.

Cara-cara lama kita mendidik anak

Banyak dijumpai di lingkungan bahkan mungkin kita termasuk saya juga kadang menakut-nakuti anak agar patuh atau tidak melakukan sesuatu.

“Kerjakan PR-nya atau mama akan marah!”

“Jangan begitu, Mama laporin Ayah lho!”

“Kok begitu sih, Ayah bilangin guru kamu nanti!”

“Stop, Mama cubit nih!”

“Diam! Atau Ayah pukul!”

Kita berusaha membuat anak patuh melalui rasa takut. Takut akan dilaporkan ke gurunya, takut dicubit, atau takut dipukul.

Cara ini memang efektif membuat anak patuh, tapi dalam jangka pendek. Tapi, tidak akan berhasil dalam jangka panjang.

Anak yang sering dicubit atau dipukul, malah akan lebih tahan. Untuk menjaga egonya, mereka sering mengatakan “tidak apa-apa” atau “tidak sakit” ketika dicubit/dipukul. Padahal sebenarnya sakit banget.

Mendengar itu, orang tua kadang tambah kesetanan. Cubitannya ditambah atau pukulannya dikencengin. Efeknya ada 2, anak jadi tambah tahan dan nakal atau jadi anak yang super patuh tapi karakternya lemah. Bisa dilihat anak jadi banyak diam, takut melakukan sesuatu, dan dimasa-masa mendatang akan jadi generasi yang tidak berani mengambil tanggung jawab.

Kebanyakan kita bereaksi terhadap perilaku negatif anak seperti memaki, berkelahi, berkata kotor, atau melanggar aturan dengan memberinya hukuman. Padahal, hukuman hanya akan menghasilkan kebencian, pemberontakan, ketakutan, penolakan, dan sikap pasif pada anak.

Saya juga sering melakukannya, dulu… xixixi. Kalau kedua anak saya berkelahi atau rebutan mainan, yang lebih tua pasti kena hukuman. Hasilnya, dia malah memberontak, merasa tidak diperlakukan adil, dan benci sama adiknya.

Paradigma baru cara mendidik anak yang baik

Tantangan hidup anak-anak kita kelak berbeda dengan zaman kita, apalagi zaman orang tua kita dulu. Sayang sekali jika kita mendidik mereka dengan cara-cara kita dididik dahulu kala.

Lantas bagaimana seharusnya kita mendidik mereka?

  • Fokuslah pada kelebihan yang dimiliki anak.

Tangkap basah anak ketika ia berbuat kebaikan. Jangan sebaliknya. Kita kadang-kadang lebih fokus menemukan anakn melakukan kesalahan. Setelah itu fokus memberinya hukuman, bukan membenahi kesalahannya.

Fokuslah pada kelebihan anak. Apresiasi hal-hal baik yang dilakukannya dengan memuji, sekecil apapun itu. Misalnya, lagi akur main sama adiknya.

“Wah, subhanallah, kakak hebat ya main sama adik.”

  • Perbanyak positive statement

Intinya banyakin “ya” kurangin “jangan, tidak boleh, tidak”.

Daripada bilang “jangan main bola di dalam rumah!”, mending diganti menjadi “main bolanya di luar saja ya…”.

Selain agar membuat anak menjadi lebih positif, intonasi dan efek kedua kalimat tersebut juga beda. Yang pertama itu mengandung intimidasi, sedangkan yang kedua lebih ke mengajak.

Intimidasi akan mematikan kreativitas dan inisiaf. Kita tentu tidak ingin anak kita tumbuh menjadi anak yang pasif.

  • Mengajak, bukan memerintah

Ini ada hubungannya dengan di atas. Ajakan menunjukkan posisi yang sama, sedangkan perintah menunjukkan seperioritas. Ini akan menumbuhan rasa percaya diri yang lebih baik pada anak.

  • Berikan pilihan, bukan pukulan atau ancaman

“Ayo mandi, atau tinggal di rumah saja. Tidak usah ikut!”

Kadang-kadang melakukannya kan? Ayo ngaku….

Untuk membentuk kebiasaan yang baik, hilangkan ancaman. Agar anak-anak bertindak bukan karena takut. Beri saja mereka pilihan.

“Kakak mau mandi di atas atau di bawah?”

“Kakak mau mandi sekarang atau setelah Dede’?”

Cara ini saya rasa lebih efektif. Di samping itu, juga mengajarkan anak untuk bertanggung jawab terhadap pilihan yang telah dibuatnya.

Terus, bagaimana jika anak berbuat salah. Apa yang harus kita lakukan?

  • Beri waktu pada anak untuk berpikir
  • Agar mereka bisa memahami kesalahan yang diperbuat
  • Setelah paham, ajak bicara bagaimana memperbaikinya
  • Beri kesempatan pada anak untuk memperbaiki kesalahan

Yang kita lakukan justru langsung marah atau teriak ketika anak berbuat salah.

“Ayah bilang juga apa!!! Jangan main di situ, pecah semua kan gelas Mama!”

Mungkin anak kita tidak pernah mengulanginya lagi, tapi tidak ada hikmah atau pelajaran yang dipetiknya dari kesalahan itu. Tidak mengulangi kesalahan hanya karena takut, bukan karena tahu yang benar seperti apa.

Anak-anak kita kelak akan hidup di zaman yang penuh persaingan. Penduduk bumi semakin buanyak, persaingan global semakin terbuka, teknologi semakin maju, lapangan pekerjaan diperebutkan bukan hanya dengan sesam manusia tapi juga dengan robot.

Cara kita mendidik mereka sekarang ini sangat menentukan kesiapan mereka menghadapi tantangan hidup mereka di masa mendatang. Akankah mereka menjadi generasi yang tangguh, kreatif, dan berani mengambil tanggungjawab atau menjadi generasi pasif dan tersingkir oleh perkembangan zaman.

Itulah sedikit oleh-oleh dari Parenting Academy hari ini di ICM tentang perubahan paradigma bagaimana cara mendidik anak di era sekarang ini. Terima kasih kepada Ibu pemateri, kepala sekolah SD ICM, dan panitia yang telah mengadakan acara ini.

Disclaimer:

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menggurui pembaca bagaimana seharusnya mendidik anak, karena saya yakin Anda sudah memiliki pakem sendiri untuk melakukannya. Saya sekadar berbagi inspirasi.

Tulisan ini saya elaborasi dari catatan dan ingatan saya selama acara, jika ada yang tidak pas, itu mungkin kekhilafan saya atau kekeliruan saya dalam memahami materi yang dipaparkan. Jika Anda menjumpainya, jangan sungkan menuliskannya dalam kolom komentar.

Tulisan Lainnya:

Jangan Berhemat, Habiskan Saja Gajimu dengan Bijak Membaca judul di atas, mungkin kawan-kawan pembaca setia blog ini mengira saya sudah menjelma menjadi financial planner... hehehe. Tidak begitu, saya ...
Mengelola Akun Twitter dengan Twitter Karma Pada tulisan sebelumnya saya sudah menuliskan tentang kegunaan refollow untuk mengelola akun twitter. Kali ini saya akan menulis bagaimana mengelola a...
3 Tips Menjaga Akun Facebook atau Twitter dari Hacker Pernahkan akun Facebook atau Twitter Anda dibajak oleh hacker? atau mungkin teman Anda yang mengalaminya? Mungkin ada yang pernah mengalami tiba-tiba ...