Select Page

Perjalanan pulang kampung memang selalu menjadi perjalanan yang menyenangkan, meskipun juga melelahkan. Ada saja kejadian tak terduga yang bisa terjadi. Seperti yang sering saya alami adalah bertemu teman lama di bis.

Pernah suatu ketika saya bertemu dengan Ina, adik kelas saya dulu di SMU. Begitu melihat saya di mobil Ia sudah lompat kegirangan. Masih Ina yang saya kenal dulu. Tapi, kami tidak sempat bicara banyak karena kursi kami terpisah jauh. Saya di baris ketiga (paling belakang) sedangkan Ia duduk di depan. Saya memang suka duduk paling belakang, agar bisa langsung tidur… 🙂

Saya masih teringat, dulu ketika menjelang UMPTN (ujiam masuk perguruan tinggi negeri), Ina begitu bimbang. Apakah Ia melanjutkan kuliah atau cari kerja saja.

“Kenapa bingung-bingung, orang tua melarang?” Tanya saya kala itu.
“Tidak Kak. Justru mendukung saya kuliah.” Jawabnya.
“Trus, apa yang membuatmu bingung?” Lanjut saya.
“Saya mau di kedokteran Kak.”
“Kamu merasa tidak bisa lulus?” Potong saya.
“Bukan itu, Kak.” Jawabnya. “Saya ini kan cuma dibiayai ibu saya, Kak. Ayah sudah meninggal beberapa tahun silam. Ibu saya hanya tukang jahit, Kak.” Ia terdiam sejenak.
“Biaya kuliah di kedokteran kan tidak murah Kak. Beberapa tetangga bahkan berkata tidak usah macam-macamlah, sadar diri. Jangan bermimpi terlalu tinggi, kalau tidak mampu. Ibu saya sampai menangis Kak mendengar itu.” Lanjutnya.

Kejadian seperti ini memang kadang terjadi. Tapi, jangan sampai melemahkan semangat kita, apalagi sampai membuat kita terpuruk. Seperti kata pepatah “anjing menggonggong kafilah berlalu“. Orang-orang di sekitar kita sah-sah saja berpendapat, baik itu menguatkan maupun merendahkan. Namun, jangan sampai terpengaruh, jangan sampai membuat kita teralihkan dari tujuan atau cita-cita kita. Lebih baik tetap fokus pada hal-hal yang mesti kita lakukan dan membuktikan bahwa mereka keliru.

Seingat saya, waktu itu Ina memilih terus maju. Soal biaya nanti akan dipikirkan lagi, yang terpenting adalah bagaimana lulus UMPTN terlebih dahulu.

Pada saat bis berhenti untuk istirahat, kami pun memiliki waktu untuk berbincang-bincang. Rupanya, Ia sekarang sedang koas di sebuah rumah sakit di Makassar. Tetangga yang dulu sering merendahkan Ia dan Ibunya kini tidak pernah melakukannya lagi. Di tahun kedua Ia mendapatkan beasiswa hingga selesai kuliah. Ia bercerita dengan semangatnya, masih seperti Ina yang saya kenal sebelumnya.

Begitulah Ina, berhasil membuktikan bahwa Ia mampu.