Belajar Cara Belajar yang Efektif

Apa yang akan saya ulas dalam tulisan ini bermula saat merebaknya Covid-19 dan diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta bulan Maret 2020, kantor saya pun diliburkan. Bukan libur sih kalau kata HRD, tapi bekerja dari rumah (work from home atau WFH).

Sebagai karyawan yang bekerja dari rumah, saya sudah menyusun rencana apa saja yang akan saya lakukan selama di rumah aja. Yang utama di jam kerja tentu saja pekerjaan rumah yang sudah saya bawa dari kantor ditambah beberapa hal yang ingin saya pelajari.

Dua minggu pertama WFH pun berlalu dan kemudian diperpanjang. Hingga akhirnya beberapa kali perpanjangan hingga memasuki masa transisi di pertengahan Juni 2020. Kantor pun mulai buka dan karyawan sudah bisa bekerja di kantor dengan pembatasan kapasitas 50% saja.

Tiga bulan WFH berlalu. Selain pekerjaan kantor, rasanya banyak juga hal lain yang saya pelajari. Paling tidak rasanya pengetahuan dan keterampilan saya bertambahlah.

Tapi ternyata, setelah saya kaji dan evaluasi, kok rasanya sedikit sekali yang tersimpan di kepala ya? Entah menguap ke mana itu pelajaran.

Sepertinya ada yang salah. Tapi, apa?

Penyebab hasil belajar kurang optimal

Suatu hari saya membaca sesuatu di dinding facebook saya. Bunyinya kira-kira begini:

Jika selama WFH ini Anda tidak berhasil menguasai satu keterampilan baru, maka sebenarnya masalah Anda bukan ketiadaan waktu. Tapi, ketidakmampuan manajemen waktu.

Hhhhmmm… saya jadi kepikiran, apakah saya kurang bisa mengatur waktu sehingga hasil belajar selama WFH kurang maksimal? Saya pun mulai mencari-cari alasan kenapa hasil belajar saya kurang optimal. Dan berikut ini kemungkinan penyebabnya:

  • Tidak fokus belajar satu hal dalam kurun waktu tertentu. Dalam satu hari saya bisa membaca beragam buku dengan beragam topik. Banyak tahu tapi tidak melekat.
  • Terkadang dalam sehari bisa produktif belajar, tapi di lain hari tidak. Jadinya tidak berkesinambungan belajarnya. 
  • Belajarnya tidak tuntas. Belum selesai satu buku atau satu topik sudah berpindah ke yang lain.

Jelaslah ya kalau faktor manajemen waktu ada, tapi bukan semata-mata itu penyebabnya. Masih ada yang lain, yaitu cara belajar saya perlu dibenahi.

Saya pun akhirnya memutuskan untuk belajar dahulu cara belajar efektif sebelum kembali belajar hal-hal lainnya atau keterampilan lainnya.

Bagaimana saya melakukannya?

Setelah saya memutuskan ingin belajar cara belajar yang efektif, saya mulai mencari informasi melalui mbah Google. Saya menemukan sebuah kursus online di coursera.org yang berjudul “Learning How to Learn: Powerful mental tools to help you master tough subjects” yang disampaikan oleh Dr. Barbara Oakley dan Dr. Terrence Sejnowski. Wow… menarik ini, pikir saya.

Tanpa pikir panjang lagi, saya langsung daftar. Kebetulan untuk ikut kursus ini tidak perlu bayar. Bayarnya kalau ingin mendapatkan sertifikat.

Saya membagi waktu untuk menyelesaikan kursus online tersebut dalam jangka waktu sebulan. Kebetulan saya masuk kantor dapat jadwal tiga kali seminggu. Jadi bisa mengalokasikan waktu sekitar satu jam setiap pagi untuk mempelajari topik ini setiap kebagian jadwal bekerja dari rumah.

Di akhir Juni saya kembali WFH, membuat saya punya waktu lebih untuk menyelesaikan kursus onlinenya.

Apa yang saya pelajari?

Di kursus online Learning How to Learn, pembelajaran dibagi ke dalam empat minggu dengan topik bahasan yang berbeda setiap minggunya. Saya hanya akan merangkum apa yang telah saya pelajari. Kalau kawan-kawan ingin juga belajar secara mendalam, silakan ikuti kursusnya (link sudah saya sertakan di atas).

– Cara berpikir diffused dan focused

Pernah tidak suatu waktu Anda fokus menyelesaikan sesuatu? Tidak peduli seberapa lama Anda berpikir atau menganalisis, Anda merasa buntu. Kemudian Anda memutuskan rehat sejenak. Menyandarkan punggung, menyeruput kopi, dan menjauh dari kebuntuan. Tapi, tiba-tiba muncul sesuatu dalam benak Anda. Seperti mendapatkan pencerahan yang mungkin memecahkan kebuntuan yang Anda alami.

Ketika fokus membaca suatu topik, kita menggunakan cara berpikir focused mode. Ketika rehat, berjalan santai, mandi, atau saat kita tidak berfokus pada sesuatu dan membiarkan pikiran kita berkelana kemana-mana, kita menggunakan cara berpikir diffused mode. Ilham biasanya muncul saat diffused mode.

Saya pribadi sering mengalami ini. Saat fokus kadang-kadang mengalami kebuntuan. Ide rasanya sudah keluar semua. Giliran sedang jogging pagi atau lagi bergelantungan dalam kereta, tiba-tiba muncul ide macam-macam. Tapi saat itu belum tahu bahwa ada yang dinamakan focused mode dan diffused mode. Jadinya ya terjadi begitu saja, tanpa sengaja untuk melakukannya.

Agar dapat mengambil keuntungan dari kedua cara berpikir ini, kita bisa dengan sengaja melakukannya saat belajar. Cobalah untuk fokus belajar dalam selang waktu tertentu, kemudian berhenti sejenak dengan tidak memikirkan sesuatu secara spesifik.

– Mengatasi penundaan

Kita biasanya menunda melakukan sesuatu karena berusaha menghindari sesuatu yang tidak nyaman. Misalnya, mau mampir isi bensin, tapi karena antrian panjang akhirnya ditunda. Mau keluar beli beras, tapi karena panas akhirnya ditunda. Intinya menunda karena menghindari sesuatu yang tidak disukai.

Hal ini juga kerap terjadi saat belajar. Karena susah memahami suatu pembahasan, akhirnya perhatian dialihkan ke HP. Mulai cek facebook, instagram, balas komen, kemudian beralih ke WA, dll. Akhirnya waktu habis untuk melakukan aktivitas lain.

Bagaimana mengatasi penundaan ini saat belajar?

Salah satu teknik yang bisa dilakukan adalah pomodoro. Teknik pomodoro dilakukan dengan cara mengatur agar Anda fokus selama 25 menit dan rehat selama 5 menit. Selama 25 menit kita memusatkan perhatian untuk belajar, meskipun menemui bahasan yang sulit. Setelah itu, baru ambil jeda selama 5 menit untuk melakukan yang lain, seperti cek fb atau WA.

Durasi fokus dan waktu rehat dapat bervariasi berdasarkan pada apa yang paling cocok untuk Anda. Bagian yang penting adalah Anda fokus dan rehat secara teratur. Pomodoro ini selain cocok untuk mengatasi kebiasaan menunda saat belajar, juga memberi kesempatan kepada focused dan diffused mode untuk bekerja.

Setelah belajar dua atau tiga putaran pomodoro, Anda bisa mengambil rehat lebih lama dengan berjalan-jalan, duduk santai dan tidak melakukan apa-apa, bikin kopi dan menikmati cemilan, dll.

Saya sering menggunakan timer pomodoro saat belajar sesuatu. Bisa pakai timer yang ada di jam HP atau bisa download di app store. Kalau yang saya gunakan aplikasi bernama pomodoro timer.

Saya pribadi merasakan kalau pomodoro ini sangat membantu mengatasi penundaan saat belajar. Meskipun ketemu sesuatu yang sulit, saya terdorong untuk terus saja membaca karena waktunya belum selesai. Ketika HP berdering tanda 25 menit telah berlalu, barulah saya istirahat 5 menit. Setelah itu lanjut lagi untuk sesi berikutnya.

Biasanya sih, kalau lagi membaca dan mumet dikit, langsung mengalihkan perhatian. Cari HP, buka internet, dan kemudian lupa untuk meneruskan bacaan… Hehehe. Dengan bantuan teknik pomodoro, hal tersebut banyak teratasi.

– Pengulangan berjeda (spaced repetition)

Zaman kuliah dulu, ada istilah SKS atau sistem kebut semalam saat menghadapi ujian semester. Semua bahan yang akan diujikan esoknya dipelajari di malam harinya. Biasanya sih sehari itu ada dua mata kuliah yang diujiankan. Bisa dibayangkan sampai jam berapa mesti begadang untuk belajar.

Bahkan, agar tahan tidak tidur sampai larut, ada yang sampai merendam kaki dengan air hangat ditambah garam. Saya sebenarnya tidak tahu kaitannya, tapi katanya itu bisa membuat mata melek terus. Entah benar tidaknya, yang saya baca sih itu untuk menghilangkan bau kaki dan kulit pecah-pecah di tumit… Hehehe.

Apakah cara belajar seperti ini menolong saat ujian?

Jawabannya “YA”. Terbukti, banyak yang lulus ujian dengan nilai memuaskan.

Apakah cara belajar ini bermanfaat dalam jangka panjang?

Jawabannya “TIDAK”. Yang dipelajari secara SKS itu tidak bertahan lama, bahkan esoknya sudah lupa sebagian besar.

Memori kita terbagi dua, yaitu working memory (short-term) dan long-term memory. Saat belajar sesuatu yang baru, kita menggunakan working memory. Untuk memindahkan informasi baru yang kita pelajari ke long-term memory membutuhkan waktu dan pengulangan. Agar informasi tersebut tersimpan dan dapat dipanggil sewaktu-waktu ketika diperlukan.

SKS juga menggunakan pengulangan. Hanya saja diulang sekaligus secara masif dalam semalam. Pengulangan yang baik memerlukan jeda yang dilakukan dalam beberapa hari, jadi tidak dilakukan sekaligus. Barbara Okley dalam online coursenya menggunakan contoh penyusunan dinding bata. Dinding bata kalau disusun secara keseluruhan dalam satu waktu, lama-lama akan ambruk. Sedangkan dinding bata yang disusun bertahap dengan mengambil jeda di antara tumpukannya, akan menghasilkan dinding yang kokoh. Begitulah penggambaran kenapa sebaiknya melakukan pengulangan berjeda (spaced repetition) ketika ingin memindahkan informasi dari short-term memory ke long-term memory.

Anda mungkin pernah mendengar istilah practice make perfect, dalam belajar dikenal practice make permanent. Sesuatu yang Anda ulang secara berkala akan tinggal dalam memori Anda. Tapi, bukan secara SKS ya…

Contoh nyata sesuatu yang diulang terus dan tinggal di kepala adalah Surah Al Fatihah. Saya bahkan bisa melafalkannya tanpa berpikir, tanpa mengingat-ingat apa ya kelanjutan ayatnya. Saya yakin banyak orang mengalami hal yang sama. Ini bisa terjadi karena surah ini diulang terus setiap hari, bahkan hingga minimal 17 kali sehari.

– Chunking

Chunks adalah potongan-potongan informasi yang terkait satu sama lainnya berdasarkan kegunaan. Dengan membagi apa yang sedang kita pelajari dalam potongan-potongan kecil informasi, akan membuatnya lebih mudah diingat dan digabungkan menjadi sesuatu yang lebih besar.

Contoh kecil, misalnya saat ingin menghafalkan nomor telepon. Kita biasanya akan mudah mengingatnya jika dibagi menjadi beberapa bagian, seperti 081742172332 menjadi 0817-4217-2332. Mengelompokkan nomornya dalam beberapa bagian, kemudian disatukan lagi menjadi rangkaian nomor telepon yang utuh.

Proses ini juga dapat diterapkan dalam proses belajar. Bagaimana kita memotong informasi yang banyak menjadi beberapa bagian agar lebih mudah diproses oleh working memory kita.

Untuk membuat chunk yang tepat, kita perlu fokus pada materi yang akan dipotong, memahami ide dasarnya, dan mendapatkan konteksnya secara umum. Dengan begitu, kita bisa tahu bagian mana yang dipotong, mana saja yang satu bagian dan mana yang bisa dipisah.

– Ilusi kompetensi (illusion of competence)

Saya kalau membaca buku sering menggunakan pensil atau stabilo untuk menandai bagian-bagian penting yang saya baca. Tujuannya agar ide dasar atau poin utamanya ada tanda, jadi mudah saya temukan jika saya membaca ulang nantinya. Sehingga tidak perlu membaca kembali bukunya secara keseluruhan.

Teknik ini sudah lama saya lakukan dan terbukti ada manfaatnya. Walaupun kadang-kadang menimbulkan ilusi. Ilusi bagaimana maksudnya?

Sering terjadi, karena sudah membaca dan menstabilo sana-sini sehingga merasa sudah menguasai apa yang dibaca. Giliran ditanya ternyata yang ditandai itu tidak tersimpan di kepala.

Betul bahwa garis pakai pensil atau mewarnai pakai stabilo pada teks yang penting bisa membantu saat belajar, tapi itu bukan jaminan bahwa informasinya masuk ke long term memory. Untuk memasukkannya ke long term memory perlu waktu dan pengulangan seperti yang saya ulas di atas.

Selain itu, untuk menguji bahwa kompetensi yang kita dapat bukan sekadar ilusi, perlu dites. Bagaimana mengetesnya?

1. Recall (melafalkan kembali)

Misalnya, Anda membaca empat kerangka kerja untuk mengubah kebiasaan. Sudah mengulang keempat poin tersebut beberapa kali. Untuk mengetesnya, Anda bisa memanggil kembali informasi tersebut dan melafalkannya tanpa melihat atau membaca buku. Kalau Anda bisa melakukannya, berarti kompetensi yang Anda dapatkan bukan sekadar ilusi.

2. Menjawab pertanyaan

Untuk menguji apa yang sudah Anda baca, bisa Anda lakukan dengan berlatih menjawab pertanyaan. Kalau belajar Matematika, Fisika, atau Kimia biasanya kan ada latihan soal di bagian belakang materinya.

Di dalam video course “Learning How to Learn” ada sebuah video wawancara yang menekankan pentingnya latihan menjawab pertanyaan ini untuk menghindari ilusi kompetensi dan meningkatkan keberhasilan dalam ujian.

Okelah kalau belajar Matematika, Fisika, atau Kimia memang ada latihan soalnya. Bagaimana kalau saya membaca makalah atau tulisan lain yang tidak ada latihan soalnya?

Saya biasanya membuat daftar pertanyaan sendiri saat membaca dari bagian-bagian yang saya tandai dengan pensil atau stabilo. Setelah bagian-bagian tersebut saya ulang, recall, kemudian di kesempatan lainnya saya coba jawab daftar pertanyaan yang saya buat tadi.

Kalau bisa menjawab berarti kompetensi yang saya dapat bukan sekadar ilusi… Hehehe.

Well, itulah beberapa hal yang saya pelajari dan sempat saya tuliskan dalam postingan ini. Kalau mau detailnya, silakan kawan-kawan ikuti training onlinenya. Link sudah saya sertakan di atas.

Selamat belajar…

Salam sukses bermanfaat…

Referensi:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top