Sabtu, 12 September 2015, saya mengikuti acara gathering TDA Tangerang Raya. Ini adalah acara pertama saya dengan TDA setelah terbentuknya pengurus yang baru 4.0. Sudah agak lama juga tidak ikut acara TDA, makanya kali ini saya luangkan waktu untuk datang. Selain dapat ilmu, bagi-bagi pengalaman, juga untuk menjaga agar mindset entrepreneur saya tidak menguap.

Saya memang punya cita-cita menjadi pengusaha sukses dan bermanfaat. Meski saat ini masih berstatus orang kantoran yang pergi pulang naik KRL dan TransJakarta, tapi keinginan jadi pengusaha tetap ada. Beberapa jenis bisnis pernah coba saya jalankan, misalnya saja kaos, terus kaos lagi bareng kawan, kemudian kaos lagi, dan training. Ada juga beberapa bisnis yang masih dalam tahap penggodokan bareng beberapa kawan, tapi tidak pernah dilahirkan. Maklumlah, mungkin salah satu masalahnya adalah tidak fokus. Tapi, untuk keluar dari kerjaan kemudian fokus bikin usaha belum berani juga… hehehe.

TDA Tangerang Raya

Gathering dan Bincang Bisnis TDA Tangerang Raya

Acara kemarin diberi judul “Gathering dan Bincang Bisnis” TDA Tangerang Raya, bertempat di restoran Sae Pisan, BSD. Acara ini menghadirkan ketua TDA v4.0 Helsusandra Syam, pemilik Sporte Muslim Swimwear dan Dwi Handaya, direktur EPIC TDA (former ketua TDA Tangray). Kemudian ada sesi bagi-bagi pengalaman dari empat member TDA Tangray, yaitu Satrio (pemilik kebab Ali Baba), Mustofa Ismail (pemilik restoran Ayam Monyet), Ismatullah (pemilik Sop Duren Kepo), dan Suhendra (pemilik bisnis batu nisan dan prasasti). Sebagai pamungkas adalah live coaching dari Sahmullah Rivki, certified international coach, certified hypnotherapist, certified human resources, trainer, dan konsultan berbagai perusahaan nasional, UKM dan perguruan tinggi.

TDA Tangerang Raya

Ketua TDA Tangerang Raya 4.0

Acara dimulai dengan pemaparan dari ketua TDA Tangray tentang berbagai program yang akan dijalankan ke depan. Misalnya tentang TDA camp yang menjadi syarat untuk bisa ikut KMB (kelompok mentoring bisnis). Syarat ini termasuk program baru yang dimaksudkan untuk melakukan internalisasi nilai-nilai TDA ke anggota maupun calon anggota. Saya sendiri menyambut positif acara ini. Sudah sepatutnya anggota TDA memahami dengan baik nilai-nilai yang ingin dibangun komunitas ini. Tidak sekadar masuk, belajar bisnis, tapi tidak merasa ada ikatan emosional dengan TDA.

Setelah itu dilanjutkan dengan berbagi pengalaman, suka duka, jatuh bangun membangun bisnis dari empat orang anggota TDA Tangray. Kali ini menghadirkan tiga orang di bisnis kuliner dan satu orang bisnis akhirat, yaitu batu nisan.

TDA Tangerang Raya

Sharing pengalaman anggota TDA Tangerang Raya

Pak Satrio, pemilik kebab Alibaba menceritakan bagaimana sejarah membangun bisnisnya hingga kini memiliki sekitar 50 cabang, dimana 13 diantaranya milik sendiri. Mulai dari beliau jadi TKI di kapal pesiar yang hanya bertahan 3 bulan karena penyakit ginjal yang dimilikinya kambuh. Bagaimana ketika awal menjual hanya laku 5, itupun 3 diantaranya yang beli adalah mertuanya.

Sharing selanjutnya adalah 2 orang yang baru lulus S1 tapi sudah punya bisnis sendiri, yaitu Mustofa Ismail, pemilik Ayam Monyet, dan Ismatullah, pemilik Sop Duren Kepo yang juga sedang lanjut kuliah S2 di UIN. Ayam Monyet yang sejatinya kepanjangan dari ayam maunya dipenyet adalah bisnis yang dimulai sejak dari mahasiswa. Saat ini Ayam Monyet sudah memiliki 3 cabang dan akhir tahun ini akan buka satu cabang lagi.

Sop Duren Kepo pun juga dimulai ketika pemiliknya masih kuliah. Bermula dari hobi sang empu Ismatullah untuk menyantap duren. Hingga suatu malam ia mencari buah kesukaannya itu di sekitar kosannya di Ciputat dan tidak berhasil menemukannya. Sepulang mencari itulah tiba-tiba ilham (bukan anaknya Pak Habibie) datang menghampiri. Peluang yang bagus nih buat bisnis duren, begitu kira-kira bisikannya Mas Ilham.

Kini Sop Duren Kepo sudah memiliki 3 outlet dengan belasan pegawai yang menangani pesanan dan produksi. Bisnis yang dimulai dari utang ini, kini dikejar-kejar oleh investor. Padahal di awal dulu, dari daftar kawan-kawannya yang kemungkinan punya uang, tidak satu pun yang berani meminjaminya 30 juta untuk memulai bisnis. Namun, keuletannya mencari modal membuahkan hasil dari seorang kawan lama.

Pemilik bisnis terakhir yang tampil adalah Suhendra yang bergerak di bidang batu nisan dan prasasti. Bisnis ini barui ditekuninya sekitar setahun, tapi sudah berhasil menutup utang yang dimilikinya ketika menjadi konsultan politik dulu. Seorang konsultan politik yang banting setir berbisnis, bisnis batu nisan pula.

Berawal dari sebuah kondisi kepepet katanya. Akhirnya, ia masuk ke dalam bisnis batu nisan meneruskan bisnis orang tua. Tapi, oleh Suhendra, bisnis ini dibuat jadi modern berbekal ilmu yang didapatkannya dari KMB TDA Tangray. Dibuatnya nama untuk bisnisnya itu, kemudian logo, dan servis yang memuaskan. Salah satu paket andalannya adalah 3 in 1. Pelanggan cukup menelepon, maka batu nisan akan diantar, dipasang, dan dirawat. Silakan jika ada pembaca yang ingin pesan duluan… hehehe.

TDA Tangerang Raya

Presentasi Pak Dwi Handaya

Acara kemudian dilanjutkan dengan presentasi dari direktur Epic TDA, Pak Dwi Handawa. Beliau juga kebenaran adalah ketua TDA Tangray 3.0. Bisnisnya di bidang water treatment yang kini sudah go international.

TDA Tangerang Raya

Live coaching

Sebagai pamungkas hari itu adalah penampilan live coaching dari Sahmullah Rivki. Pada sesi ini banyak dibahas tentang pondasi seseorang untuk melakukan bisnis. Pertanyaan besar yang harus dijawab adalah :

Kenapa sih Anda ingin atau melakukan bisnis?

Jika pertanyaan di atas dapat dijawab dengan tepat akan bisa menjadi tolak ukur ketahanan Anda dalam melakukan bisnis. Banyak orang mulai bisnis dengan alasan yang kurang tepat. Sehingga, ketika bisnis menghadapi tantangan, dengan mudah akan menyerah dan berbalik arah.

Banyak orang berbisnis karena alasan uang. Setelah dijalani, ternyata order tak kunjung datang, penjualan tak kunjung terjadi, dan kemudian tutup. Ada juga yang berbisnis karena mencari kemerdekaan waktu. Kenyataannya setelah bisnis malah harus bangun lebih pagi dan tidur lebih larut.

Jika pertanyaan mendasar tadi bisa dijawab dengan tepat, ketahanan dalam berbisnis akan lebih baik. Bisnis boleh saja bangkrut, tapi semangat untuk terus berusaha takkan luntur. Banyak bukti yang menunjukkan, bahkan dari pemilik kebab Alibaba, bahwa bisnis yang kemudian bertahan dan sukses besar bukanlah bisnis pertama yang dijalankan. Bisa jadi itu adalah percobaan yang kelima, enam, atau bahkan puluhan percobaan. Bayangkan, jika Pak Satrio (pemilik bisnis kebab Alibaba) berhenti bisnis ketika usaha kreditan handphone-nya bangkrut.

Untuk bisa menjawab pertanyaan mendasar tadi, coach Rivki mengajak peserta untuk kembali melihat visi hidup kita. Nantinya visi hidup ini diselaraskan dengan visi bisnis agar terjadi sinergi, bukannya malah bertentangan.

Agar pemahaman kita sama, visi yang dimaksud adalah akan jadi siapa atau memiliki apa (to be/to have) dalam jangka waktu minimal 20 tahun ke depan. Kalau saya sih lebih suka mendefinisikannya kondisi akhir yang ingin dicapai dalam hidup ini. Sama saja sebenarnya, karena 20 tahun itu minimal dan hanya kesepakatan kita saja agar gampang merumuskan untuk latihan.

TDA Tangerang Raya

Visi (sumber foto : essilorusa.com)

Saat itu saya menuliskan visi hidup saya :

Menjadi pribadi yang sukses dan bermanfaat.

Sukses yang saya maksud disini adalah dalam segala hal, seperti keluarga, pekerjaan, sosial, kesehatan, dan finansial. Sedangkan bermanfaat adalah kesuksesan tersebut harus memberi manfaat baik bagi diri saya sendiri, keluarga, dan juga masyarakat luas.

Menurut Pak Rivki, menuliskan visi ini bukan soal benar atau salah. Tapi, sejauh mana visi yang dirumuskan itu benar-benar bisa jadi kompas atau petunjuk arah dalam kita mengarungi kehidupan. Sempat juga disinggung soal metode SMART dalam goal setting. Metode ini pernah saya ulah di postingan sebelumnya.

Setelah membuat visi hidup, peserta kemudian diberi waktu untuk merumuskan visi bisnis. Beberapa peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan apa visi hidup kemudian apa visi bisnisnya.

Saya menuliskan visi bisnis saya :

Menjadi perusahaan jasa dan training presentasi terdepan di Indonesia.

Visi bisnis ini saya buat terkait dengan blog MasterPresentasi.com yang saya kelola saat ini.

TDA Tangerang Raya

Misi (sumber foto : alphacoders.com)

Selanjutnya dibahas tentang misi hidup. Misi adalah tindakan yang dilakukan untuk mencapai visi atau to do. Contoh sederhananya adalah, visi ingin ke Bandung, misi adalah naik kereta. Masih ada sebenarnya untuk ketiga yaitu value atau nilai, tapi tidak dibahas karena keterbatasan waktu. Jadi, ada tiga hal dasar sebagai kompas dalam hidup atau bisnis, yaitu visi, misi, dan value.

Satu hal menarik, visi misi value ini juga bisa dipakai untuk cari jodoh agar langgeng. Tapi yang terjadi kadang-kadang orang hanya melihat sampai misi. Misal, Neng visinya apa? Ke Makassar, Bang. Sama dong dengan Abang. Neng, misinya apa? Naik pesawat, Bang. Eh, sama lagi dengan Abang. Nikah yuukkk…

Satu hal yang lupa adalah value. Itulah mengapa, ada pasangan yang visi dan misi sama tapi bubar jalan. Ini karena valuenya berbeda. Value itu segala tindak-tanduk atau kebiasaan yang dilakukan selama menjalankan misi. Yang satu sukanya gosip selama naik pesawat, yang satunya suka membaca dan menulis selama di pesawat. Ya, bubar…

Soal visi – misi – value ini akan saya bahas lebih lanjut lagi di postingan berikutnya.

Pada sesi tanya jawab, saya bertanya tentang tips agar bisa berani mundur dari pekerjaan dan fokus mengembangkan bisnis. Pertanyaan saya ini dijawab dengan panjang lebar oleh coach Rivki. Mulai dari keyakinan bahwa rezeki itu berasal dari Allah SWT, maka kekhawatiran yang berlebih tidak sepatutnya. Khawatir adalah hal wajar, tapi kalau berlebih tidak baik. Kemungkinan trauma masa lalu yang berbuntut selalu khawatir. Misalnya, ada keluarga yang berbisnis kemudian bangkrut. Aset disita dan keluarga jadi berantakan. Atau bisa juga faktor keluarga dan lingkungan lainnya, misalnya pandangan bahwa berbisnis itu kasihan dan tidak dihormati.

Jika merasa yakin bahwa rezeki itu datangnya dari Allah, coach Rivki menantang saya untuk membuat surat pengunduran diri dari kantor mulai Senin. Sebagai wujud kesungguhan, tantangan ini pakai salaman segala sebagai akad. Artinya saya bersungguh-sungguh akan melakukannya. Gawat…!!!

Mungkin ada yang bertanya, mengapa saya tidak resign saja dari kantor dan fokus bisnis kalau memang cita-citanya ingin jadi pengusaha?

Alasan klise sebenarnya. Kebutuhan hidup tidak bisa ditunda.

Sebagai orang yang memiliki tanggungan anak, istri, dan orang tua, ada tagihan-tagihan yang tidak bisa ditunda. Bayaran anak sekolah, belanja kebutuhan sehari-hari, dll. Sementara penghasilan dari bisnis baru bisa untuk beli token listrik. Itupun tidak rutin setiap bulannya. Itulah mengapa saya masih berstatus karyawan hingga saat ini.

Tapi, karena sudah akad, sebelum menulis postingan ini saya memberanikan diri untuk membuat surat pengunduran diri dari kantor. Besok Senin akan saya bawa ke kantor dan simpan di laci dulu. Entah kapan akan saya serahkan ke Bos.

Yang jelas, akad sudah saya tunaikan… membuat surat pengunduran diri.

Laporan selesai.

Tulisan Lainnya:

Perbedaan antara Motivator dengan Trainer Kawan saya pernah bertanya, “Apa perbedaan antara motivator dengan trainer?” Saat itu saya baru saja mengikuti workshop Trainerpreneur yang diselen...
Menggali Manfaat Dari Iklan Lowongan Kerja Membaca iklan lowongan kerja, baik itu di internet atau koran tentu bukan hal baru bagi sebagian orang. Khususnya yang lagi berstatus job seeker alias...
Tips Menulis Resolusi Tahun Baru Tidak lama lagi tahun ini segera berlalu ya dan kita akan memasuki tahun baru. Pasti sudah banyak yang mulai menulis resolusi tahun baru. Namun sebelu...