Select Page

Image by Robin Higgins from Pixabay

Dalam interaksi kita sehari-hari, tidak jarang kita dapati perkataan atau perbuatan orang lain yang berpotensi membuat kita merasa sakit hati. Entah itu disengaja atau tidak oleh mereka.

Pernah suatu ketika saya sedang menyetir dalam kondisi macet. Di kiri mobil diisi oleh motor dan di sisi kanan dari belakang ada motor yang membunyikan klakson minta jalan. Dengan kondisi jalan seperti itu tidak mungkin saya minggir ke kiri, karena banyak motor.

Setelah sekian lama, akhirnya motor ini pindah ke kiri dan berhasil melewati saya. Saat lewat, Ia mengangkat jari tengahnya ke arah saya. Menyaksikan hal itu, saya tentu saja merasa sakit hati dan emosi. Kalau jalan lancar mungkin motor itu akan saya kejar dan membalas perbuatannya.

Tapi, kalau dipikir-pikir, sakit hati akan banyak merugikan kita sendiri. Apalagi kalau sampai merespon dengan tindakan atau perkataan yang sama atau mungkin lebih parah.

Berikut ini beberapa hal yang kerap saya alami ketika merasa sakit hati akibat perkataan atau perbuatan orang lain.

  • Merusak mood yang tadinya hepi bisa jadi jengkel atau marah.
  • Hilang konsentrasi.
  • Pekerjaan jadi kacau.

Jika hal ini dibiarkan terjadi setiap hari, bisa runyam kan. Karena kita berinteraksi dengan orang lain setiap hari.

Lantas apa yang bisa dilakukan?

Kita tidak dapat mengontrol bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita. Yang bisa kita kontrol adalah reaksi kita terhadap perilaku yang kita terima.

Reaksi kita dipengaruhi oleh proses internal yang terjadi dalam pikiran. Bagaimana menginterpretasi perilaku yang kita terima, sampai akhirnya kita bereaksi atas perilaku tersebut.

Agar tidak mudah sakit hati dan kemudian jadi baper apalagi emosi, kita bisa mengubah interpretasi kita terhadap perkataan atau perbuatan orang lain yang  kemungkinan membuat kita uring-uringan. Simpelnya, mengubah maknanya sehingga respon kita jadi positif.

Misal kejadian yang saya alami tadi. Saya merasa sakit hati akibat tindakan pemotor tersebut. Kalau interpretasinya tidak saya ubah, ya saya akan sakit hati selama beberapa saat. Selama itu, saya jadi marah-marah, tidak konsentrasi nyetir, akhirnya bisa berbahaya kan.

Hal lain yang bisa saya lakukan adalah mengubah makna dari perilaku tadi. Misalnya, mungkin dia sedang buru-buru, ada keluarganya yang sakit dan butuh pertolongan, jadinya tidak bisa berpikir jernih.

Rasanya lebih plong. Coba deh.

Atau mungkin Anda pernah jumpa seorang kawan yang sudah lama tidak ketemu. Saat jumpa, yang keluar dari mulutnya malah “Kamu kelihatan lebih gemuk lho dibanding saat kuliah dulu”. Sakit hati kan. Ini sih curhat… Ahahahaha.

Biar tidak sakit hati berkepanjangan dan lama, coba ubah makna perilaku tersebut.

Kawan saya ini memang perhatian banget sama saya sejak dulu sampai sekarang.

Ini saatnya untuk menerapkan gaya hidup sehat. Terima kasih, kawan.

Cobalah. Pasti rasanya lebih lega. Himpitan di dada rasanya lepasss… hehehe.

Saat ikut pelatihan NLP (neuro linguistic programming), cara ini dinamakan reframing atau membingkai ulang. Artinya mengubah makna suatu perbuatan atau tindakan dengan meletakkannya dalam konteks atau konten yang berbeda.

Tapi, kita tidak perlu mengubah makna segala hal yang bisa merugikan kita. Kalau ada yang menyela antrian Anda di ATM atau kasir supermarket, Anda tidak perlu berpikir mungkin dia lagi buru-buru, anak-anaknya mungkin sedang menunggu di rumah dalam keadaan lapar, atau lainnya. Ada hal-hal yang memang perlu kita ambil sikap dan tindakan.

Kesimpulannya…

Makna setiap perilaku orang lain terhadap Anda tergantung bagaimana Anda menginterpretasikannya. Ketika Anda mengubah interpretasinya, Anda mengubah maknanya. Demikian halnya respon Anda, baik itu perilaku atau perkataan yang Anda hasilkan. Dengan demikian, Anda tidak akan mudah untuk merasa sakit hati.