Produksi migas nonkonvensional yang melimpah di Amerika Serikat beberapa tahun terakhir dituding berperan dalam penurunan harga minyak mentah dunia yang terjadi sejak 2014.

Harga minyak mentah yang sempat menyentuh angka di atas 100 dolar per barel, anjlok hingga sekitar 27 dolar per barel di awal tahun 2016. Dan hingga saat ini, harga minyak masih berkutat di kisaran 50 dolar per barel.

Kalau ditelisik dari dua grafik di bawah ini, bisa jadi migas nonkonvensional adalah biang anjloknya harga minyak mentah dunia.

Fluktuasi harga minyak dari tahun ke tahun. (Sumber NYC)

Fluktuasi harga minyak dari tahun ke tahun. (Sumber NYC)

Produksi minyak Amerika dari tight oil (sumber EIA)

Produksi minyak Amerika dari tight oil (sumber EIA)

Tapi, saya tidak akan membahas soal ini lebih lanjut :).

Apa yang dimaksud migas nonkonvensional?

Sumberdaya migas ada dua, yaitu konvensional dan nonkonvensional. Keduanya berbeda dari segi usaha dan teknologi untuk mengambil migasnya.

Kalau konvensional, reservoirnya dibor kemudian isinya bisa disedot. Sedangkan nonkonvensional tidak demikian. Diperlukan teknologi yang lebih advance untuk bisa menyedot kandungan migas dalam reservoarnya. Perlunya teknologi ini disebabkan oleh kondisi reservoarnya yang berbeda dengan konvensional.

“The term “unconventional” simply refers to the methods that are used, as well as the types of rock from which the oil and natural gas are produced.” ~Alberta Energy Regulator

Conventional vs Unconventional (Sumber EIA)

Conventional vs Unconventional (Sumber EIA)

Mengapa baru booming akhir-akhir ini?

Migas nonkonvensional sudah dikenal dan ada dari dulu. Hanya saja, teknologi yang dibutuhkan untuk memproduksinya memerlukan biaya yang sangat besar. Sehingga, secara ekonomis tidaklah menguntungkan.

Sekarang, nampaknya teknologi yang dibutuhkan tidaklah semahal dulu lagi. Atau harga minyak per barel masih memberi keuntungan dibanding ongkos produksi per barelnya.

Apa saja yang termasuk migas nonkonvensional?

Ada beberapa jenis migas nonkonvensional. Lebih jelasnya, mari kita lihat resources triangle dari Phil Chan, berikut ini:

Resources triangle (Phil Chan, 2011)

Resources triangle (Phil Chan, 2011)

Dari segitiga di atas, ada dua kelompok yaitu minyak nonkonvensional dan gas nonkonvensional. Juga terdapat daerah abu-abu, dimana heavy oil, extra-heavy oil, dan tight gas berada di antara konvensional dan nonkonvensional.

Namun, berdasarkan definisi dari International Energy Agency (IEA), ketiganya dikelompokkan ke dalam nonkonventional.

Dalam tulisan ini, saya hanya akan membahas tentang oil shale, tight sand gas, shale gas, coal bed methane (CBM), dan gas hydrates.

1. Oil shale

Oil shale dapat ditemukan dalam batuan sedimen berbutir halus (shale, siltstone, dan marl) yang memiliki kandungan bahan organik tinggi. Karena berbutir halus, permeabilitas pada batuan ini sangat rendah. Sehingga, untuk bisa mengambil kandungan minyaknya diperlukan teknologi khusus.

Teknologi yang digunakan yaitu pengeboran horisontal dan perekahan hidrolik (hydraulic fracturing) untuk mengalirkan minyak yang terperangkap dalam batuan.

2. Tight sand gas

Gas ini dijumpai dalam reservoir batupasir dengan permeabilitas yang sangat rendah, yaitu kecil dari 0.1 mD. Permeabilitas yang sangat kecil ini memerlukan teknologi khusus untuk memproduksi kandungan gasnya secara ekonomis.

3. Shale gas

Seperti halnya oil shale, gas ini terdapat dalam sedimen berbutir halus dengan permeabilitas yang sangat rendah. Gasnya terbentuk dan terperangkap di batuan yang sama dan membutuhkan teknologi khusus untuk mengalirkannya.

Teknologi yang bisa dilakukan sama seperti di oil shale yaitu fracturing.

4. Coal bed methane (CBM)

CBM atau gas metana batubara adalah gas yang terdapat secara alami di dalam lapisan batubara. Gas ini merupakan hasil dari proses pembatubaraan (coalification).

Indonesia diperkirakan memiliki sumber daya CBM sebesar 450 TCF (ESDM, 2007). Dengan jumlah cadangan sebesar itu, CBM bisa menjadi sumber energi yang menjanjikan di masa depan.

5. Gas hidrat

Gas hidrat terbentuk ketika gas, utamanya metan biogenik, yang bergabung dengan air pada suhu rendah dan tekanan tinggi. Gas ini dapat ditemukan pada laut dalam atau area permafrost (daerah yang selalu beku).

Gas hidrat yang terperangkap dalam kristal pada es membutuhkan teknologi dan biaya yang besar untuk dapat mengeluarkannya.

Demikianlah, sedikit pembahasan tentang migas nonkonvensional. Mudah-mudahan lain waktu bisa mengulas satu per satu secara lebih mendalam.

Referensi:

Phill Chan, Non-Conventional Resources Estimation, in SPE Guidelines for Application of the PRMS, 2011.

Benny Lubiantara, Dinamika Industri Migas, 2014.

http://www.nytimes.com/interactive/2016/business/energy-environment/oil-prices.html

http://www.eia.gov/energy_in_brief/article/shale_in_the_united_states.cfm

https://www.aer.ca/about-aer/spotlight-on/unconventional-regulatory-framework/what-is-unconventional-oil-and-gas

http://www.eia.gov/todayinenergy/detail.php?id=110