Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata

Lagu Indonesia Pusaka, karya Ismail Marzuki, mengalun merdu oleh Neno Warisman ketika mengisi seminar parenting di sekolah ICM, Senin, 28 November 2016. Meskipun mengaku sudah tak lihai lagi menyanyi seperti dulu, karena tidak rutin latihan.

melatih anak disiplin

Lagu ini didendangkan bukan tanpa alasan, tapi menjadi gambaran mengapa Neno Warisman yang dulunya artis kemudian berubah fokus dalam bidang parenting. Neno adalah seorang yang nasionalis religius. Ia melihat bahwa kerepotan kita mencari pemimpin yang berjiwa islami saat ini dikarenakan kesalahan dari masa lalu.

Olehnya itu, Neno terpanggil untuk aktif di bidang parenting, agar 15 tahun – 20 tahun yang akan datang Indonesia tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari pemimpin yang islami.

Melatih anak disiplin sejak dini harus dilakukan dengan penuh kasih sayang. Namun, jangan mengatasnamakan kasih sayang ini untuk berlaku kejam terhadap anak. Banyak pembenaran dilakukan orang tua atas nama kasih sayang.

“Mama terpaksa menghukum kamu, karena mama itu sayang sama kamu!”

Padahal, hakikat kasih sayang adalah menerima apa adanya. Bukan dengan syarat kamu harus begini begitu. Pakai kata “pokoknya” lagi.

Kita ingin anak disiplin karena kesadaran, bukan karena takut atau lainnya.

Satu lagi istilah yang baru saya dengar adalah “disiplin tempel”. Mungkin Anda pernah menempel berbagai larangan di dalam rumah dengan maksud agar anak-anak disiplin mematuhinya.

“Simpan sepatu di rak sepatu!”

“Jangan menyimpan baju kotor di sini!”

“Setelah selesai, matikan lampu kamar mandi!”

Contoh di atas adalah model disiplin tempel.

Kalau menurut saya sendiri sih, cara terbaik untuk melatih anak disiplin adalah dengan memberikan contoh secara sabar. Karena kadang kita kurang sabar, baru memberi contoh sekali sudah berharap anak melakukannya terus.

Bagaimana mungkin kita berharap anak-anak kita melakukan sesuatu, jika kita sendiri tidak disiplin menerapkannya.

Misal, sehabis mandi handuk digantung di jemuran. Kalau kita sebagai orang tua disiplin melakukannya setiap hari, anak-anak akan mengikutinya. Dan lama-kelamaan itu akan menjadi kebiasaan, yang pada akhirnya akan menjadi karakter.

Pembentukan karakter ini dimulai dari dalam pikiran, kemudian diucapkan dengan kata. Kata kemudian menjadi keyakinan yang diaktualisasikan menjadi tindakan. Tindakan yang berulang akan menjadi kebiasaan dan akan membentuk karakter.

Begitulah kira-kira alurnya. Jadi tidak perlu mengancam apalagi teriak untuk melatih kedisiplinan anak. Karena yang diperoleh hanyalah disiplin palsu. Disiplin hanya ketika orang tua ada.

Kita menginginkan disiplin yang terbentuk dari dalam melalui latihan dan contoh dari orang tua dengan penuh kasih sayang.

Demikianlah secara singkat yang bisa saya uraikan dari seminar parenting kemarin dengan sedikit modifikasi dan tambahan dari saya.