Kegiatan yang kerap saya lakukan ketika mengantar bocah-bocah ke sekolah adalah mendengarkan radio. Seperti halnya tadi pagi, saya mendengarkan salah satu channel radio.

Setelah musik, muncullah suara penyiarnya yang membahas sebuah topik. Saya lupa topik apa yang dibahasnya, yang saya ingat justru banyaknya “filler words” yang digunakan… xixixi. Mungkin penyiarnya kurang menguasai topiknya.

Setelah beberapa kata kemudian “eeee….”, beberapa kata lagi kemudian “eeee….”. Hingga akhirnya saya memindahkan channel ke radio lain.

Filler words “eeee….”, “ummmm…”, atau lainnya sering dipakai ketika bicara baik itu dalam percakapan biasa maupun saat presentasi.

Saya pribadi, dulu sering sekali menggunakan kata “eee…”, oke…, atau baik… ketika presentasi. Saya menyadari hal tersebut ketika menyaksikan rekaman saya sedang presentasi.

Dari pengalaman saya, munculnya filler words ini ketika presentasi disebabkan oleh kurang persiapan atau tidak begitu menguasai topik yang dibicarakan.

Kata “eee…” dll mengindikasikan kita sedang berusaha mengingat atau mencari kata yang akan kita ucapkan. Kalau sekali-sekali saja sih tidak masalah. Tapi, kalau sering akan mengganggu audiens presentasi atau lawan bicara.

Untuk mengurangi atau bahkan menghilangkannya perlu latihan.

Menyiapkan bahan presentasi sebaik mungkin kemudian melatihnya hingga lancar merupakan cara yang jitu untuk mengatasi munculnya filler words ketika presentasi.

Salah satu teknik yang saya gunakan untuk menghilangkan filler words adalah latihan bicara terkait satu topik sambil direkam. Saat terucap kata “eee…” otomatis saya berhenti dan mengulang rekaman.

Perlu beberapa kali ulangan baru berhasil merekam satu topik tanpa filler words.

Dari situ, saya kemudian bisa mengerem penggunaan kata “eee…”. Ketika lupa atau kehabisan kata, saya bisa diam sambil berusaha mengingat atau mencari kata.